Skip to main content

Kelak

Denganmu, aku tenang.

Itulah alasan mengapa aku ingin selalu berada di dekatmu. Bercerita tentang hidup yang menyesakkan, atau sekedar canda yang tak begitu lucu namun mampu membuat kita tertawa. Hari demi hari, selama beberapa tahun ini aku bersyukur karna masih bisa melihatmu, pergi ketempat-tempat baru, menikmati makanan yang belum pernah kita nikmati sebelumnya, berselisih paham, blok - unblok sosial media, hingga mengukir asa bersama.

Terimakasih karna selalu ada. Karna kamu separuh kekuatanku, tempatku meluapkan segala emosi; marah, sedih, cemas dan senang.

Kamu itu, buatku cukup. Kamu tak perlu seperti ini dan itu. Kamu tak usah seperti dia atau mereka. Aku menerima kamu seutuhnya. Dengan sisi baik dan buruknya kamu.

Kamu bilang, aku adalah tujuanmu. Seseorang yang selalu kamu dahulukan. Seseorang yang penting dalam hidupmu. 

Tetaplah begitu, hingga kamu mencapai tujuanmu, aku mencapai tujuanku, tujuan kita bersama.

Setiap hari, aku selalu berharap agar Tuhan dan semesta merestui kita, membuat jalan ini menjadi ringan. Sampai tiba saatnya, setiap saat, setiap hari, aku merasa tenang dan nyaman. Karnamu.

Aku mencintaimu, tujuanku.
Semoga kelak, asa menjadi nyata.
Dan doa menjadi realita.

Comments

Popular posts from this blog

STOP BODY SHAMING!!!

Hafff.... Bosen sih harus nulis tentang ini lagi, tapi lagi lagi gue masih resah sama hal ini. Kamu udah tau apa itu bodi shaming ? Simplenya sih, body shaming (mempermalukan diri) itu istilah yang digunakan untuk mencela atau mengejek orang lain dan atau dirimu sendiri berdasarkan tampilan fisiknya. Jadi semacam bullying juga sih. Gue sebagai korban yang sedari jaman SD sampe sekarang mendapat perlakuan kayak gini dari lingkungan, merasa ini sangat amat mengganggu. "Kenapa sih orang orang selalu bully fisik gue kayak gini?" kadang itu yang sering gue tanyakan pada diri. Seringnya, gue di bully karna kekurusan gue yang mungkin mengganggu indra penglihatan mereka. Gak sesuai sama standar kecantikan dimata mereka. Selalu protes sama keadaan diri gue yang bahkan merugikan mereka pun enggak. Dan hal ini sangat berdampak buruk untuk gue, tingkat kepercayaan diri gue menurun. Karnanya dari kecil gue adalah orang yang gak pedean, cenderung pesimis. Sampai sekarang si...

Cerita Tentang Mama

Suatu malam di bulan Mei 2018, Malam itu gue baru aja pulang kerja dari tempat kerja gue di daerah Menteng, Jakarta Pusat. Didalam kereta, gue menerima telpon dari kakak, dia bilang:  “ni, nanti pulang jangan bilang sama mama apa penyakitnya dia, mama kena kanker serviks ni” Seketika itu juga badan gue lemes, nangis sambil berdiri di kereta, enggak ngerti lagi apa yang gue rasain…. Paginya gue emang tau kalo mama mau periksa ke rumah sakit karna udah mengalami pendarahan yang cukup lama, padahal mama gue sendiri sudah tidak menstruasi. Tapi gue gak pernah nyangka mama bisa di diagnosa kanker. Kata kanker sendiri amat tabu buat gue, gak pernah sedikit pun gue ngayal kanker ada di hidup gue, tiap googling gejala penyakit yang dirasain mama, gak pernah gue ketik keyword “kanker” sebegitu enggak kepikirannya. Sampenya dirumah gue masih lemes, liat mama kayaknya pengen nagis banget. Waktu itu gue pulang bawa makanan dari kantor, biasanya gue makan sendiri karna laper tapi...

Pulang..

Pagi itu, aku masih bisa mencium keningmu. Sejak beberapa bulan yang lalu, keadaanmu memburuk, lebih buruk dari sebelumnya. Aku, yang mungkin telah bersiap diri, selalu berdoa agar Tuhan memberi sedikit waktu lagi, beberapa tahun lagi sampai aku bisa memberimu bahagia. Aku yang berusaha keras agar kuliahku cepat selesai, mendapatkan pekerjaan baru yang baik. Memberimu lebih banyak dari biasanya. Beberapa kali ku coba melamar pekerjaan kesana kemari, beberapa orang bertanya "kenapa nggak nunggu ijazah aja? kan bentar lagi" aku, dalam benakku menjawab "mungkin mamaku sebentar lagi pulang, aku ingin mendapat pekerjaan baru, gaji yang besar, bisa memberinya apa yang bisa aku beri, sebelum dia pulang" tapi apa daya, semuanya masih gagal. Sore itu, ketika aku sampai rumah mama terlihat sangat berbeda semenjak terakhir kali aku melihatnya. mama, terlihat begitu kosong. mama benar-benar tak mampu bicara lagi. Dikesempatan terakhir yang ku punya, aku bilang aku menyay...