Pagi itu, aku masih bisa mencium keningmu.
Sejak beberapa bulan yang lalu, keadaanmu memburuk, lebih buruk dari sebelumnya. Aku, yang mungkin telah bersiap diri, selalu berdoa agar Tuhan memberi sedikit waktu lagi, beberapa tahun lagi sampai aku bisa memberimu bahagia.
Aku yang berusaha keras agar kuliahku cepat selesai, mendapatkan pekerjaan baru yang baik. Memberimu lebih banyak dari biasanya. Beberapa kali ku coba melamar pekerjaan kesana kemari, beberapa orang bertanya "kenapa nggak nunggu ijazah aja? kan bentar lagi" aku, dalam benakku menjawab "mungkin mamaku sebentar lagi pulang, aku ingin mendapat pekerjaan baru, gaji yang besar, bisa memberinya apa yang bisa aku beri, sebelum dia pulang" tapi apa daya, semuanya masih gagal.
Sore itu, ketika aku sampai rumah mama terlihat sangat berbeda semenjak terakhir kali aku melihatnya. mama, terlihat begitu kosong. mama benar-benar tak mampu bicara lagi. Dikesempatan terakhir yang ku punya, aku bilang aku menyayanginya, aku ikhlas jika memang sudah waktunya. Dan tibatiba mama mengangkat tangannya diatas punggungku, seperti ingin memeluk namun tak kuasa. Andai mama tau, beberapa hari yang lalu skripsiku di acc ma, sebentar lagi aku lulus.
Sedih rasanya melihatmu sudah tak berdaya lagi, tak mampu menolak, tak mampu meminta sesuatu. Ma, semenjak hari itu ada bagian kosong dihatiku, yang tak akan terisi kembali sampai kita bertemu lagi. Ma, jalan ku masih sangat panjang, tapi apa jadinya aku tanpamu, tujuanku.
Ma, setiap hari, setiap malam aku merindumu. Beberapa kali aku bermimpi tentang bagaimana aku menangis melihatmu pergi, dan mama hanya diam tanpa berkata apa. Ma, datang ke mimpiku dengan keadaanmu sekarang.
Ma, aku selalu merapikan kamarmu, berharap mama bisa tidur dengan nyenyak lagi disana. Ma, bapak kehilangan separuh jiwanya. Ma, kami kehilangan tempat berpulang. Ma, kapan datang? sekali aja. sebentar saja. aku ingin memelukmu walau sebentar.
Ma, apa disana baik baik saja? apa mama bisa istirahat dengan tenang sampai kita berkumpul lagi? Ma, hariku mungkin akan mendung, entah sampai kapan. Ruang kosong dihatiku selalu memanggilmu. Ma, langkahku terasa berat. Ma, dimana aku bisa menemuimu lagi...
Tak ada yang seindah matamu
Hanya rembulan
Tak ada yang selembut sikapmu
Hanya Lautan
Tak tergantikan
Oh...
Walau kita
Tak lagi saling
Menyapa
Lyric by Kunto Aji - Pilu Membiru
Sejak beberapa bulan yang lalu, keadaanmu memburuk, lebih buruk dari sebelumnya. Aku, yang mungkin telah bersiap diri, selalu berdoa agar Tuhan memberi sedikit waktu lagi, beberapa tahun lagi sampai aku bisa memberimu bahagia.
Aku yang berusaha keras agar kuliahku cepat selesai, mendapatkan pekerjaan baru yang baik. Memberimu lebih banyak dari biasanya. Beberapa kali ku coba melamar pekerjaan kesana kemari, beberapa orang bertanya "kenapa nggak nunggu ijazah aja? kan bentar lagi" aku, dalam benakku menjawab "mungkin mamaku sebentar lagi pulang, aku ingin mendapat pekerjaan baru, gaji yang besar, bisa memberinya apa yang bisa aku beri, sebelum dia pulang" tapi apa daya, semuanya masih gagal.
Sore itu, ketika aku sampai rumah mama terlihat sangat berbeda semenjak terakhir kali aku melihatnya. mama, terlihat begitu kosong. mama benar-benar tak mampu bicara lagi. Dikesempatan terakhir yang ku punya, aku bilang aku menyayanginya, aku ikhlas jika memang sudah waktunya. Dan tibatiba mama mengangkat tangannya diatas punggungku, seperti ingin memeluk namun tak kuasa. Andai mama tau, beberapa hari yang lalu skripsiku di acc ma, sebentar lagi aku lulus.
Sedih rasanya melihatmu sudah tak berdaya lagi, tak mampu menolak, tak mampu meminta sesuatu. Ma, semenjak hari itu ada bagian kosong dihatiku, yang tak akan terisi kembali sampai kita bertemu lagi. Ma, jalan ku masih sangat panjang, tapi apa jadinya aku tanpamu, tujuanku.
Ma, setiap hari, setiap malam aku merindumu. Beberapa kali aku bermimpi tentang bagaimana aku menangis melihatmu pergi, dan mama hanya diam tanpa berkata apa. Ma, datang ke mimpiku dengan keadaanmu sekarang.
Ma, aku selalu merapikan kamarmu, berharap mama bisa tidur dengan nyenyak lagi disana. Ma, bapak kehilangan separuh jiwanya. Ma, kami kehilangan tempat berpulang. Ma, kapan datang? sekali aja. sebentar saja. aku ingin memelukmu walau sebentar.
Ma, apa disana baik baik saja? apa mama bisa istirahat dengan tenang sampai kita berkumpul lagi? Ma, hariku mungkin akan mendung, entah sampai kapan. Ruang kosong dihatiku selalu memanggilmu. Ma, langkahku terasa berat. Ma, dimana aku bisa menemuimu lagi...
Tak ada yang seindah matamu
Hanya rembulan
Tak ada yang selembut sikapmu
Hanya Lautan
Tak tergantikan
Oh...
Walau kita
Tak lagi saling
Menyapa
Lyric by Kunto Aji - Pilu Membiru
Comments
Post a Comment