Buatku ucapan adalah janji, baik yang terucap untuk oranglain maupun diri sendiri.
Dari sebuah ucapan, tumbuh sebuah percaya, diiringi kecewa setelahnya.
Aku pernah patah karna rasa percayaku pada oranglain, sekali rasaku patah, tak akan ku biarkan tumbuh lagi.
Tapi dengan berjalannya waktu, percaya ku tumbuh kembali dengan orang yang berbeda, bisa pasangan atau teman.
Hari demi hari terlewati dengan percaya yang semakin mendalam. Semua rasa tertumpahkan. Kecewa, bahagia, ragu, angan, asa dan lainnya.
Sampai satu ketika, saat kondisiku yang tak memungkin kan untuk tetap berdiri sendiri, saat kata tak mampu menyemangati, aku butuh percayaku ada ketika itu, saat titik terendah dalam hidupku selama ini.
Tapi, ternyata tidak. Percayaku tak ada, ia tak bergeming. sibuk dengan semestanya sendiri. Dan, percayaku patah lagi untuk ke dua kalinya.
Perlahan hatiku berdamai, mungkin aku harus lebih dewasa menerima, bahwa oranglain punya dunia nya, oranglain tak harus mengerti perasaan ku, aku mulai membiarkan waktu menjadi obatnya.
Ternyata benar, rasa terdalamku ternyata bukan percaya, melainkan rasa sayang dan perasaan memiliki.
Percayaku tumbuh kembali. Sudah ku lupa kecewa yang pernah ada. Tapi, lagi dan lagi, ia patahkan kembali. Dengan kenyataan aku memang tak sepenting yang ku pikirkan. Sedih ku yang dulu bersama nya, Kata demi kata penyamangat yang kami ucapkan bersama. Mungkin tak ada nilainya.
Saat keadaan berpihak padanya. Saat sedih tak dipelupuk matanya. Saat senyum selalu di bibirnya. Aku, tak ada.
Dan, untuk kesekian kalinya, percayaku patah lagi dan lagi. Ah sudah, ku rasa sudah waktunya untuk berhenti. Percaya saja padaku, aku, diriku.
Mungkin saatnya, untukku memanjakan egoku. Tak memikirkan orang lain lagi, aku tak perlu ada ketika keadaan tak berpihak padamu, lagi.
Aku memutuskan untuk tak menumbuhkan percaya ku lagi, pada siapapun.
Dari sebuah ucapan, tumbuh sebuah percaya, diiringi kecewa setelahnya.
Aku pernah patah karna rasa percayaku pada oranglain, sekali rasaku patah, tak akan ku biarkan tumbuh lagi.
Tapi dengan berjalannya waktu, percaya ku tumbuh kembali dengan orang yang berbeda, bisa pasangan atau teman.
Hari demi hari terlewati dengan percaya yang semakin mendalam. Semua rasa tertumpahkan. Kecewa, bahagia, ragu, angan, asa dan lainnya.
Sampai satu ketika, saat kondisiku yang tak memungkin kan untuk tetap berdiri sendiri, saat kata tak mampu menyemangati, aku butuh percayaku ada ketika itu, saat titik terendah dalam hidupku selama ini.
Tapi, ternyata tidak. Percayaku tak ada, ia tak bergeming. sibuk dengan semestanya sendiri. Dan, percayaku patah lagi untuk ke dua kalinya.
Perlahan hatiku berdamai, mungkin aku harus lebih dewasa menerima, bahwa oranglain punya dunia nya, oranglain tak harus mengerti perasaan ku, aku mulai membiarkan waktu menjadi obatnya.
Ternyata benar, rasa terdalamku ternyata bukan percaya, melainkan rasa sayang dan perasaan memiliki.
Percayaku tumbuh kembali. Sudah ku lupa kecewa yang pernah ada. Tapi, lagi dan lagi, ia patahkan kembali. Dengan kenyataan aku memang tak sepenting yang ku pikirkan. Sedih ku yang dulu bersama nya, Kata demi kata penyamangat yang kami ucapkan bersama. Mungkin tak ada nilainya.
Saat keadaan berpihak padanya. Saat sedih tak dipelupuk matanya. Saat senyum selalu di bibirnya. Aku, tak ada.
Dan, untuk kesekian kalinya, percayaku patah lagi dan lagi. Ah sudah, ku rasa sudah waktunya untuk berhenti. Percaya saja padaku, aku, diriku.
Mungkin saatnya, untukku memanjakan egoku. Tak memikirkan orang lain lagi, aku tak perlu ada ketika keadaan tak berpihak padamu, lagi.
Aku memutuskan untuk tak menumbuhkan percaya ku lagi, pada siapapun.
Comments
Post a Comment